Sudut Pandang(ku)
Hai.. selamat datang.
Kali ini edisi Ramadhan di tengah pandemi aku akan mengajak kalian bertemu bab 30 hari bercerita Citra. Ini adalah hal baru dan tantangan terbaru untukku. Aku ingin aktif menulis dan memang harus memaksa untuk bisa mencapai impianku. Aku hanya orang biasa yang sedang berbagi cerita. Pada bagian ini aku akan menceritakan pada kalian sebuah sudut pandang. Mari kita bertukar cerita. Bertukar perasaan dan pikiran. Semoga ada hal baik yang bisa kalian ambil dari bab ini. Mari kita mulai cerita pertama kita.
Marhaban yaa Ramadhan.. Siapa yang tak bahagia menyambut bulan yang mulia ini. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dan kebahagiaan. Meski di tengah pandemi, semarak sambut Ramadhan kali ini jauh lebih terasa hidup dibanding tahun lalu.Setidaknya itu yang aku rasakan.
Persiapan menyambut Ramadhan pun sudah dilakukan sejak dari bulan-bulan sebelumnya. Merencang proposal program Ramadhan, mendesain proposal, mengantarkan ke instansi, lanjut mengkonfirmasi, hingga sebar-sebar brosur pun sudah kami lakukan. Dengan target sebelum Ramadhan semua hal itu sudah selesai.
Bukan Citra namanya jika tak semangat dalam menggapai target.Ya, aku telah memutuskan untuk mengabdi pada lembaga yang telah membesarkanku ini. Meski banyak duri dilalui entah kenapa selalu ada jalan untuk bangkit dan meniti kembali.
Bagiku bekerja di bidang sosial tak pernah terfikirkan, namun seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari dan menemukan kebahagiaan dengan sendirinya. Aku mulai melihat diriku yang sesungguhnya. Meski begitu aku tetap mencari peluang kerja, beasiswa dan usaha lainnya. Aku tetap memegang mimpu-mimpiku, aku ingin mandiri dan ingin jadi lebih baik lagi. Bentar ini kayak curhat ya jadinya hehe.
But anyway, meski aku berkata aku senang menjadi bagian dalam komunitas ini, tidak berarti aku happy happy terus. Aku menemui tekanan dalam bekerja, merasa marah, sedih, stress dan kecewa. Tak jarang pula aku menangis sendirian di kamar. Hei ini dimanapun kau bekerja, kau akan menemui perasaan itu bukan ?
Meski begitu bila ditanya apa aku bahagia dengan kondisiku sekarang, maka jawabanku tak pernah berubah "ya, aku bahagia". Bukankah dalam melakukan sesuatu yang paling terpenting adalah kita bahagia melakukannya ? bukankah harusnya kita mendahulukan kebahagiaan kita ? Ya meski realitannya kita akan menemui orang yang memaksa kita untuk membiarkannya bahagia meski ia tau kita terlukaa. Wah dalam sekali maknanya.
Pernah suatu ketika mari kita sebut Umi berkata padaku, kala itu aku sedang ijin pulang guna mengurus beberapa dokumen untuk melamar pekerjaan. Seperti biasa, bukan Umi namanya jika tak ada nasihat yang ia sampaikan.
"Saya tau nduk, suatu saat saya akan merasa kehilangan kamu (mendapat pekerjaan baru), tapi tidak apa demi kebaikanmu. Saya yakin kamu akan tetap berkontribusi untuk lembaga ini. "
"iya bu, saya ingin tetap berkontribusi disini. Mohon doanya ya bu"
" Iya semoga dimudahkan"
Percakapan apapun dengan Umi selalu ada nasihat atau doa yang terucap. Maka hal itulah yang sedang aku coba tiru.
Ya, pekerjaan ini tak pernah kusangka sebelumnya. Namun aku bersyukur karena Allah telah memberiku kesempatan untuk dapat membantu banyak orang. Merasa bahagia dan tenang.
Baiklah sekian dari Citra
Esok kita sambung lagi
Terimakasih :)